Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Wednesday, September 25, 2013

Mulailah Pendidikan Antikorupsi di Keluarga dan Sekolah..!

Pemberantasan korupsi harus dimulai dari tingkat yang paling dini. Penanaman nilai-nilai antikorupsi harus mulai diberikan kepada anak di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolahnya. Dengan begitu, saat tumbuh dewasa, seseorang sudah paham dengan buruknya tindakan korupsi.

Demikian disampaikan Koordinator Youth Departement Transparency International Indonesia (TII) Lia Toriana saat memaparkan rekomendasi hasil survei yang dirilisnya dalam acara bertajuk "Youth International Conference On Integrity" di Jakarta, Rabu (25/9/2013). 

Sesuai temanya, acara diskusi tersebut dihadiri anak muda yang umumnya adalah mahasiswa-mahasiswi. Dalam survei tersebut, disebutkan bahwa faktor keluarga masih memegang peranan paling penting dalam mempengaruhi pandangan seseorang tentang integritas dan sikap antikorupsi. 

Sebanyak 83 persen responden menganggapnya berpengaruh. Di urutan nomor dua, sebanyak 80 persen responden menganggap sistem pendidikan baik di sekolah ataupun di kampus mempengaruhi pandangan seseorang terhadap integritas dan sikap antikorupsi. 

Hasil survei juga menyebutkan, sebanyak 74 persen responden berpendapat, tingkat integritas juga dipengaruhi oleh teman sepermainan. Selain itu, 66 persen responden berpendapat tokoh/pemimpin turut memengaruhi, dan sisanya selebriti dunia hiburan sebesar 33 persen. 

"Ini menunjukkan kalau pendidikan antikorupsi ini harus dimulai sedini mungkin," kata Lia. 

Menurutnya, orangtua harus menjadi contoh yang baik terhadap anaknya. Orangtua tidak boleh mencontohkan perbuatan-perbuatan koruptif, sekecil apapun perbuatan itu. Sekolah dan perguruan tinggi, menurutnya, juga harus mulai mengajarkan nilai-nilai antikorupsi kepada anak didiknya. 

Survei dilakukan di DKI Jakarta pada periode bulan Juli 2012-Desember 2012. Sampel adalah anak muda yang berusia 15 sampai 30 tahun. Metode penelitian ini menggabungkan dua metode, yaitu kuantitatif dan kualitatif. 

Metode kuantitatif dilakukan di 50 kelurahan di lima wilayah DKI Jakarta, sementara metode kualitatif dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD). Margin of error penelitian ini menggunakan tingkat kepercayaan 95 persen, berada di bawah 2.5 persen.

----
Sumber: [kompas]

Tuesday, September 10, 2013

Pengintegrasian Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran di Sekolah

Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. 
FIS Universitas Negeri Yogyakarta

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Untuk meraih derajat manusia seutuhnya sangatlah tidak mungkin tanpa melalui proses pendidikan. Pendidikan harus dapat menghasilkan insan-insan yang memiliki karakter mulia, di samping memiliki kemampuan akademik dan keterampilan yang memadai. Salah satu cara untuk mewujudkan manusia yang berkarakter adalah dengan mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran. Nilai-nilai karakter utama yang harus terwujud dalam sikap dan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter adalah jujur (olah hati), cerdas (olah pikir), tangguh (olah raga), dan peduli (olah rasa dan karsa). Pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan pemuatan nilai-nilai karakter dalam semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Untuk itu guru harus mempersiapkan pendidikan karakter mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah perlu didukung oleh keteladanan guru dan orang tua murid serta budaya yang berkarakter. 


# PENDAHULUAN

Pendidikan adalah sebuah usaha yang ditempuh oleh manusia dalam rangka memperoleh ilmu yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk bersikap dan berperilaku. Karena itu, pendidikan merupakan salah satu proses pembentukan karakter manusia. Pendidikan bisa juga dikatakan sebagai proses pemanusiaan manusia. Dalam keseluruhan proses yang dilakukan manusia terjadi proses pendidikan yang akan menghasilkan sikap dan perilaku yang akhirnya menjadi watak, kepribadian, atau karakternya. Untuk meraih derajat manusia seutuhnya sangatlah tidak mungkin tanpa melalui proses pendidikan.

Pendidikan juga merupakan usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat.

Sejalan dengan laju perkembangan masyarakat, pendidikan menjadi sangat dinamis dan disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Kurikulum pendidikan bukan menjadi patokan yang baku dan statis, tetapi sangat dinamis dan harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Dalam rangka ini reformasi pendidikan menjadi urgen agar pendidikan tetap kondusif. Reformasi pendidikan harus terprogram dan sistemik. Reformasi terprogram menunjuk pada kurikulum atau program suatu institusi pendidikan, misalnya dengan melakukan inovasi pendidikan. Inovasi dilakukan dengan memperkenalkan ide baru, metode baru, dan sarana prasarana baru agar terjadi perubahan yang mencolok dengan tujuan dan maksud tertentu. Adapun reformasi sistemik terkait dengan hubungan kewenangan dan distribusi serta alokasi sumber daya yang mengontrol sistem pendidikan secara keseluruhan. Hal ini sering terjadi di luar sekolah dan berada pada kekuatan sosial dan politik. Reformasi sistemik menyatukan inovasi-inovasi yang dilakukan di dalam sekolah dan di luar sekolah secara luas (Zainuddin, 2008: 33-34).

Beberapa tahun terakhir pendidikan kita telah mengalami perubahan kurikulum seperti diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004 yang disusul dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Di samping itu, juga telah dilakukan berbagai inovasi dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (lihat bab 2 pasal 3). Salah satu bentuk inovasi ini adalah dicanangkannya pendidikan karakter bangsa melalui berbagai proses pendidikan. Dari fungsi dan tujuan yang ingin dicapai, pendidikan karakter tidak hanya merupakan inovasi pendidikan, tetapi juga merupakan reformasi pendidikan yang harus dipersiapkan dan dilaksanakan dengan benar serta melibatkan setiap pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, harus dirancang dan diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Dalam rangka pembentukan karakter peserta didik sehingga beragama, beretika, bermoral, dan sopan santun dalam berinteraksi dengan masyarakat, maka pendidikan harus dipersiapkan, dilaksanakan, dan dievaluasi dengan baik dan harus mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya guna mewujudkan insan-insan Indonesia yang berkarakter mulia.

Pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Inilah rancangan pendidikan karakter (moral) yang oleh Thomas Lickona disebut moral knowing, moral feeling, dan moral action (Lickona, 1991: 51). Karena itulah, semua mapel yang dipelajari oleh peserta didik di sekolah harus bermuatan pendidikan karakter yang bisa membawanya menjadi manusia yang berkarakter seperti yang ditegaskan oleh Lickona tersebut.


# KAJIAN TEORI

Pengertian Karakter dan Pendidikan Karakter Istilah karakter adalah istilah yang baru digunakan dalam wacana Indonesia dalam lima tahun terakhir ini. Istilah ini sering dihubungkan dengan istilah akhlak, etika, moral, atau nilai. Karakter juga sering dikaitkan dengan masalah kepribadian, atau paling tidak ada hubungan yang cukup erat antara karakter dengan kepribadian seseorang.

Secara etimologis, kata karakter (Inggris: character) berasal dari bahasa Yunani (Greek), yaitu charassein yang berarti “to engrave” (Ryan & Bohlin, 1999: 5). Kata “to engrave” bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan (Echols & Shadily, 1995: 214). Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata “karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, dan watak. Karakter juga bisa berarti huruf, angka, ruang, simbul khusus yang dapat dimunculkan pada layar dengan papan ketik (Pusat Bahasa Depdiknas, 2008: 682). Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak. Dengan demikian, karakter merupakan watak dan sifat-sifat seseorang yang menjadi dasar untuk membedakan seseorang dari yang lainnya.

Dengan makna seperti itu karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan bawaan sejak lahir (Doni Koesoema, 2007: 80). Seiring dengan pengertian ini, ada sekelompok orang yang berpendapat bahwa baik buruknya karakter manusia sudah menjadi bawaan dari lahir. Jika bawaannya baik, manusia itu akan berkarakter baik, dan sebaliknya jika bawaannya jelek, manusia itu akan berkarakter jelek. Jika pendapat ini benar, pendidikan karakter tidak ada gunanya, karena tidak akan mungkin merubah karakter orang yang sudah taken for granted. Sementara itu, sekelompok orang yang lain berpendapat berbeda, yakni bahwa karakter bisa dibentuk dan diupayakan sehingga pendidikan karakter menjadi bermakna untuk membawa manusia dapat berkarakter yang baik.

Secara terminologis, makna karakter dikemukakan oleh Thomas Lickona yang mendefinisikan karakter sebagai “A reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way.” Selanjutnya, Lickona menambahkan, “Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior” (Lickona, 1991: 51). Karakter mulia (good character), dalam pandangan Lickona, meliputi pengetahuan tentang kebaikan (moral khowing), lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan (moral feeling), dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan (moral behavior). Dengan kata lain, karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitudes), dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills).

Dalam proses perkembangan dan pembentukannya, karakter seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan (nurture) dan faktor bawaan (nature). Secara psikologis perilaku berkarakter merupakan perwujudan dari potensi Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), dan Adverse Quotient (AQ) yang dimiliki oleh seseorang. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosio-kultural pada akhirnya dapat dikelompokkan dalam empat kategori, yakni 1) olah hati (spiritual and emotional development), 2) olah pikir (intellectual development), 3) olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), dan 4) olah rasa dan karsa (affective and creativity development). Keempat proses psiko-sosial ini secara holistik dan koheren saling terkait dan saling melengkapi dalam rangka pembentukan karakter dan perwujudan nilai-nilai luhur dalam diri seseorang (Kemdiknas, 2010: 9-10).

Secara mudah karakter dipahami sebagai nilai-nilai yang khas-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Secara koheren, karakter memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan (Pemerintah RI, 2010: 7).

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkungan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat. Menurut Ahmad Amin (1995: 62) bahwa kehendak (niat) merupakan awal terjadinya akhlak (karakter) pada diri seseorang, jika kehendak itu diwujudkan dalam bentuk pembiasaan sikap dan perilaku. Dari konsep karakter ini muncul konsep pendidikan karakter (character education).

Terminologi pendidikan karakter mulai dikenalkan sejak tahun 1900-an. Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya, terutama ketika ia menulis buku yang berjudul Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility (1991) yang kemudian disusul oleh tulisan-tulisannya seperti The Return of Character Education yang dimuat dalam jurnal Educational Leadership (November 1993) dan juga artikel yang berjudul Eleven Principles of Effective Character Education, yang dimuat dalam Journal of Moral Volume 25 (1996). Melalui buku dan tulisan-tulisannya itu, ia menyadarkan dunia Barat akan pentingnya pendidikan karakter. Pendidikan karakter, menurutnya, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good) (Lickona, 1991: 51).

Di pihak lain, Frye (2002: 2) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai, “A national movement creating schools that foster ethical, responsible, and caring young people by modeling and teaching good character through an emphasis on universal values that we all share”. Jadi, pendidikan karakter harus menjadi gerakan nasional yang menjadikan sekolah (institusi pendidikan) sebagai agen untuk membangun karakter peserta didik melalui pembelajaran dan pemodelan. Melalui pendidikan karakter sekolah harus berpretensi untuk membawa peserta didik memiliki nilai-nilai karakter mulia seperti hormat dan peduli pada orang lain, tanggung jawab, jujur, memiliki integritas, dan disiplin. Di sisi lain pendidikan karakter juga harus mampu menjauhkan peserta didik dari sikap dan perilaku yang tercela dan dilarang.

Pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak, tetapi lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang yang baik sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik. Dengan demikian, pendidikan karakter membawa misi yang sama dengan pendidikan akhlak atau pendidikan moral.

Nilai-Nilai Dasar dalam Pendidikan Karakter Pemerintah Indonesia telah merumusan kebijakan dalam rangka pembangunan karakter bangsa. Dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025 ditegaskan bahwa karakter merupakan hasil keterpaduan empat bagian, yakni olah hati, olah pikir, olah raga, serta olah rasa dan karsa. Olah hati terkait dengan perasaan sikap dan keyakinan/keimanan, olah pikir berkenaan dengan proses nalar guna mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif, dan inovatif, olah raga terkait dengan proses persepsi, kesiapan, peniruan, manipulasi, dan penciptaan aktivitas baru disertai sportivitas, serta olah rasa dan karsa berhubungan dengan kemauan dan kreativitas yang tecermin dalam kepedulian, pencitraan, dan penciptaan kebaruan (Pemerintah RI, 2010: 21).

Nilai-nilai karakter yang dijiwai oleh sila-sila Pancasila pada masing-masing bagian tersebut, dapat dikemukakan sebagai berikut:
  1. Karakter yang bersumber dari olah hati antara lain beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib, taat aturan, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik; 
  2. Karakter yang bersumber dari olah pikir antara lain cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, produktif, berorientasi Ipteks, dan reflektif; 
  3. Karakter yang bersumber dari olah raga/kinestetika antara lain bersih, dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, dan gigih; dan 
  4. Karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa antara lain kemanusiaan, saling menghargai, gotong royong, kebersamaan, ramah, hormat, toleran, nasionalis, peduli, kosmopolit (mendunia), mengutamakan kepentingan umum, cinta tanah air (patriotis), bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja.


Dari nilai-nilai karakter di atas, Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) mencanangkan empat nilai karakter utama yang menjadi ujung tombak penerapan karakter di kalangan peserta didik di sekolah, yakni jujur (dari olah hati), cerdas (dari olah pikir), tangguh (dari olah raga), dan peduli (dari olah rasa dan karsa).

Dengan demikian, ada banyak nilai karakter yang dapat dikembangkan dan diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah. Menanamkan semua butir nilai tersebut merupakan tugas yang sangat berat. Oleh karena itu, perlu dipilih nilai-nilai tertentu yang diprioritaskan penanamannya pada peserta didik.

Direktorat Pembinaan SMP Kemdiknas RI mengembangkan nilai-nilai utama yang disarikan dari butir-butir standar kompetensi lulusan (Permendiknas No. 23 tahun 8 2006) dan dari nilai-nilai utama yang dikembangkan oleh Pusat Kurikulum Depdiknas RI (Pusat Kurikulum Kemdiknas, 2009). Dari kedua sumber tersebut nilai-nilai utama yang harus dicapai dalam pembelajaran di sekolah (institusi pendidikan) di antaranya adalah: 
  1. Kereligiusan, yakni pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya. 
  2. Kejujuran, yakni perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. 
  3. Kecerdasan, yakni kemampuan seseorang dalam melakukan suatu tugas secara cermat, tepat, dan cepat. 
  4. Ketangguhan, yakni sikap dan perilaku pantang menyerah atau tidak pernah putus asa ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehingga mampu mengatasi kesulitan tersebut dalam mencapai tujuan. 
  5. Kedemokratisan, yakni cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 
  6. Kepedulian, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan (manusia, alam, dan tatanan) di sekitar dirinya. 
  7. Kemandirian, yakni sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. 
  8. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, yakni berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. 
  9. Keberanian mengambil risiko, yakni kesiapan menerima risiko/akibat yang mungkin timbul dari tindakan nyata. 
  10. Berorientasi pada tindakan, yakni kemampuan untuk mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata. 
  11. Berjiwa kepemimpinan, yakni kemampuan mengarahkan dan mengajak individu atau kelompok untuk mencapai tujuan dengan berpegang pada asas-asas kepemimpinan berbasis budaya bangsa. 
  12. Kerja keras, yakni perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya. 
  13. Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan YME. 
  14. Gaya hidup sehat, yakni segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. 
  15. Kedisiplinan, yakni tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 
  16. Percaya diri, yakni sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. 
  17. Keingintahuan, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. 
  18. Cinta ilmu, yakni cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan. 
  19. Kesadaran akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, yakni sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain. 
  20. Kepatuhan terhadap aturan-aturan sosial, yakni sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum. 
  21. Menghargai karya dan prestasi orang lain, yakni sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. 
  22. Kesantunan, yakni sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang. 
  23. Nasionalisme, yakni cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.
  24. Menghargai keberagaman, yakni sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama (Dit. PSMP Kemdiknas, 2010).
D24 nilai dasar karakter di atas, guru (pendidik) dapat memilih nilai-nilai karakter tertentu untuk diterapkan pada peserta didik disesuaikan dengan muatan materi dari setiap mata pelajaran (mapel) yang ada. Guru juga dapat mengintegrasikan karakter dalam setiap proses pembelajaran yang dirancang (skenario pembelajaran) dengan memilih metode yang cocok untuk dikembangkannya karakter peserta didik.

# PEMBAHASAN 

Pengintegrasian Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Merespons sejumlah kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan akhlak dan budi pekerti (pendidikan karakter), terutama melalui dua mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan, telah diupayakan inovasi pendidikan karakter. Inovasi tersebut adalah: 
  1. Pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. Integrasi yang dimaksud meliputi pemuatan nilai-nilai ke dalam substansi pada semua mata pelajaran dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang memfasilitasi dipraktikkannya nilai-nilai dalam setiap aktivitas di dalam dan di luar kelas untuk semua mata pelajaran. 
  2. Pendidikan karakter juga diintegrasikan ke dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan peserta didik. 
  3. Selain itu, pendidikan karakter dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan semua urusan di sekolah yang melibatkan semua warga sekolah (Dit. PSMP Kemdiknas, 2010).
Dari ketiga bentuk inovasi di atas yang paling penting dan langsung bersentuhan dengan aktivitas pembelajaran sehari-hari adalah pengintegrasian pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Pengintegrasian pendidikan karakter melalui proses pembelajaran semua mata pelajaran di sekolah sekarang menjadi salah satu model yang banyak diterapkan. Model ini ditempuh dengan paradigma bahwa semua guru adalah pendidik karakter (character educator). Semua mata pelajaran juga disasumsikan memiliki misi dalam membentuk karakter mulia para peserta didik (Mulyasa, 2011: 59)

Di samping model ini, ada juga model lain dalam pendidikan karakter di sekolah, seperti model subject matter dalam bentuk mata pelajaran sendiri, yakni menjadikan pendidikan karakter sebagai mata pelajatan tersendiri sehingga memerlukan adanya rumusan tersendiri mengenai standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, silabus, RPP, bahan ajar, strategi pembelajaran, dan penilaiannya di sekolah. Model ini tidaklah gampang dan akan menambah beban peserta didik yang sudah diberi sekian banyak mata pelajaran. Karena itulah, model integrasi pendidikan karakter dalam mata pelajaran dinilai lebih efektif dan efisien dibanding dengan model subject matter.

Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran di sekolah dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Tahap-tahap ini akan diuraikan lebih detail berikut ini.

1. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan yang mula-mula dilakukan adalah analisis SK/KD, pengembangan silabus berkarakter, penyusunan RPP berkarakter, dan penyiapan bahan ajar berkarakter. Analisis SK/KD dilakukan untuk mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang secara substansi dapat diintegrasikan pada SK/KD yang bersangkutan. Perlu dicatat bahwa identifikasi nilai-nilai karakter ini tidak dimaksudkan untuk membatasi nilai-nilai yang dapat dikembangkan pada pembelajaran SK/KD yang bersangkutan. Guru dituntut lebih cermat dalam memunculkan nilai-nilai yang ditargetkan dalam proses pembelajaran.

Secara praktis pengembangan silabus dapat dilakukan dengan merevisi silabus yang telah dikembangkan sebelumnya dengan menambah komponen (kolom) karakter tepat di sebelah kanan komponen (kolom) Kompetensi Dasar atau di kolom silabus yang paling kanan. Pada kolom tersebut diisi nilai(-nilai) karakter yang hendak diintegrasikan dalam pembelajaran. Nilai-nilai yang diisikan tidak hanya terbatas pada nilai-nilai yang telah ditentukan melalui analisis SK/KD, tetapi dapat ditambah dengan nilai-nilai lainnya yang dapat dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran (bukan lewat substansi pembelajaran). Setelah itu, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, dan/atau teknik penilaian, diadaptasi atau dirumuskan ulang dengan penyesuaian terhadap karakter yang hendak dikembangkan. Metode menjadi sangat urgen di sini, karena akan menentukan nilai-nilai karakter apa yang akan ditargetkan dalam proses pembelajaran.

Sebagaimana langkah-langkah pengembangan silabus, penyusunan RPP dalam rangka pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran juga dilakukan dengan cara merevisi RPP yang telah ada. Revisi RPP dilakukan dengan langkah-langkah: 
  • Rumusan tujuan pembelajaran direvisi/diadaptasi. Revisi/adaptasi tujuan pembelajaran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) rumusan tujuan pembelajaran yang telah ada direvisi hingga satu atau lebih tujuan pembelajaran tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif dan psikomotorik, tetapi juga afektif (karakter), dan (2) ditambah tujuan pembelajaran yang khusus dirumuskan untuk karakter. 
  • Pendekatan/metode pembelajaran diubah (disesuaikan) agar pendekatan/metode yang dipilih selain memfasilitasi peserta didik mencapai pengetahuan dan keterampilan yang ditargetkan, juga mengembangkan karakter. 
  • Langkah-langkah pembelajaran juga direvisi. Kegiatan-kegiatan pembelajaran dalam setiap langkah/tahap pembelajaran (pendahuluan, inti, dan penutup), direvisi atau ditambah agar sebagian atau seluruh kegiatan pembelajaran pada setiap tahapan memfasilitasi peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang ditargetkan dan mengembangkan karakter. Prinsip-prinsip pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning), pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning), dan pembelajaran aktif (misal: PAIKEM/Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) cukup efektif untuk mengembangkan karakter peserta didik. 
  • Bagian penilaian direvisi. Revisi dilakukan dengan cara mengubah dan/atau menambah teknik-teknik penilaian yang telah dirumuskan. Teknik-teknik penilaian dipilih sehingga secara keseluruhan teknik-teknik tersebut mengukur pencapaian peserta didik dalam kompetensi dan karakter. Di antara teknik-teknik penilaian yang dapat dipakai untuk mengetahui perkembangan karakter adalah observasi, Penilaian kinerja, penilaian antar teman, dan penilaian diri sendiri. Nilai karakter sebaiknya tidak dinyatakan secara kuantitatif, tetapi secara kualitatif, misalnya:
  1. BT: Belum Terlihat,apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator. 
  2. MT: Mulai Terlihat,apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda  awal  perilaku/karakter  yang  dinyatakan  dalam  indikator  tetapi belum konsisten. 
  3. MB: Mulai Berkembang,apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten. 
  4. MK: Menjadi Kebiasaan atau membudaya, apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan  perilaku/karakter  yang  dinyatakan  dalam  indikator  secara konsisten (Dit. PSMP Kemdiknas, 2010).
  • Bahan ajar disiapkan. Bahan ajar yang biasanya diambil dari buku ajar (buku teks) perlu disiapkan dengan  merevisi  atau menambah  nilai-nilai  karakter ke dalam pembahasan  materi  yang ada di dalamnya. Buku-buku yang ada selama ini meskipun telah memenuhi  sejumlah  kriteria kelayakan buku  ajar,  yaitu kelayakan isi,  penyajian,  bahasa,  dan  grafika,  akan  tetapi materinya  masih belum secara memadai mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya. Apabila guru sekedar mengikuti atau melaksanakan embelajaran dengan berpatokan pada kegiatan kegiatan pembelajaran pada buku-buku  tersebut,  pendidikan  karakter  secara memadai belum berjalan. Oleh karena itu, sejalan dengan apa yang telah dirancang pada silabus dan RPP yang berwawasan pendidikan karakter, bahan ajar perlu diadaptasi. Adaptasi yang paling mungkin dilaksanakan oleh guru adalah dengan cara menambah kegiatan pembelajaran yang sekaligus dapat mengembangkan karakter. Cara lainnya adalah dengan mengadaptasi atau mengubah kegiatan belajar pada buku ajar yang dipakai. Selain  itu, adaptasi dapat dilakukan dengan merevisi substansipembelajarannya.
2.  Pelaksanaan Pembelajaran

Kegiatan  pembelajaran  dari  tahapan  kegiatan  pendahuluan,  inti, dan penutup dipilih  dan dilaksanakan agar peserta didik mempraktikkan nilai-nilai karakter yang ditargetkan. Sebagaimana disebutkan di depan, prinsip-prinsip Contextual Teaching and Learning disarankan  diaplikasikan  pada semua  tahapan pembelajaran karena prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sekaligus dapat memfasilitasi terinternalisasinya nilai-nilai karakter pada peserta didik. Selain itu, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik.

Dalam  pembelajaran  ini  guru  harus  merancang  langkah-langkah  pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik aktif dalam prosesmulai dari pendahuluan, inti, hingga penutup. Guru dituntut  untuk menguasai berbagai metode, model, atau strategi pembelajaran aktif sehingga langkah-langkah pembelajaran dengan mudah disusun dan dapat dipraktikkan dengan  baik dan benar. Dengan  proses seperti  ini  guru  juga  bisa melakukan pengamatan sekaligus melakukan evaluasi (penilaian) terhadap proses yang terjadi, terutama terhadap karakter peserta didiknya.

3.  Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi  atau  penilaian  merupakan  bagian  yang  sangat  penting  dalam  proses pendidikan. Dalam pendidikan karakter, penilaian harus dilakukan dengan baik dan benar. Penilaian tidak hanya menyangkut pencapaian kognitif peserta didik, tetapi juga pencapaian afektif dan psikomorotiknya. Penilaian karakter lebih mementingkan pencapaian afektif dan psikomotorik peserta didik dibandingkan pencapaian kognitifnya. Agar hasil penilian yang dilakukan guru bisa benar dan objektif, guru harus memahami prinsip-prinsip  penilaian  yang  benar  sesuai  dengan  standar  penilaian  yang sudah ditetapkan oleh para ahli penilaian. Pemerintah (Kemdiknas/Kemdikbud) sudah menetapkan Standar Penilaian Pendidikan yang dapat  dipedomani  oleh  guru  dalam melakukan penilaian di sekolah, yakni Permendiknas RI Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Dalam standar ini banyak teknik dan bentuk penilaian yang ditawarkan untuk melakukan penilaian, termauk dalam penilaian karakter. Dalam penilaian karakter, guru hendaknya membuat instrumen penilaian yang dilengkapi dengan rubrik penilaian untuk menghindari penilaianyang subjektif, baik dalam bentuk instrumen penilaian pengamatan (lembar pengamatan) maupun instrumen penilaian skala sikap (misalnya skala Likert).


# SIMPULAN

Jika  pelaksanaan  pendidikan  karakter  di  sekolah  sebagai  bagian  dari  reformasi pendidikan,  maka reformasi  pendidikan  karakter  bisa diibaratkan  sebagai  pohon  yang memiliki empat bagian penting, yaitu akar, batang, cabang dan daun. Akar reformasi adalah landasan filosofis (pijakan) pelaksanaan pendidikan karakter harus jelas dan dipahami oleh masyarakat penyelenggara dan pelaku pendidikan. Batang reformasi berupa mandat dari pemerintah selaku penanggung jawab penyelenggara pendidikan nasional. Dalam hal ini standar dan tujuan dilaksanakannya pendidikan karakter harus jelas, transparan, dan akuntabel. Cabang reformasi  berupa  manajemen pengelolaan pendidikan karakter, pemberdayaan guru, dan pengelola pendidikan harus ditingkatkan.

Sedang  daun  reformasi  adalah  adanya  keterlibatan  orang  tua  peserta  didik  dan masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan karakter yang didukung pula dengan budaya dan  kebiasaan  hidup masyarakat yang kondusif yang sekaligus menjadi teladan bagi peserta didik dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari. Keempat pilar reformasi pendidikan karakter di atassaling terkait dan jika salah satunya tidak maksimal  akan dapat mengganggu pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah  dan  institusi pendidikan lainnya. Karena itulah, pelaksanaan pendidikan karakter harus dipersiapkan dengan baik dan  melibatkan semua pihak yang terkait dengan pelaksanaannya serta harus dilakukan evaluasi yang berkesinambungan.

Lingkungan sosial dan budaya bangsa Indonesia  adalah  Pancasila, sehingga pendidikan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dan yang tidak kalah pentingnya, sebagai bangsa yang beragama, pengembangan karakter bangsa tidak bisa dilepaskan dari ajaran agamanya. Karena itulah, pendidikan karakter yang religius (religious based character) harus didasarkan pada nilai-nilai karakter yang terkandung dalam keseluruhan ajaran agama yang dianut peserta  didik. Pengembangan karakter di sekolah  menjadi  sangat penting  mengingat di sinilah peserta  didik  mulai  berkenalan dengan berbagai bidang kajian keilmuan. Pada masa ini pula peserta didik mulai sadar akan jati dirinya sebagai manusia yang mulai beranjak dewasa dengan berbagai problem yang menyertainya. Dengan berbekal nilai-nilai karakter mulia yang diperoleh melalui proses  pembelajaran di kelas  dan di luar kelas, peserta didik diharapkan menjadi manusia yang berkarakter sekaligus memiliki ilmu pengetahuan yang siap dikembangkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.


# DAFTAR PUSTAKA
  1. Ahmad  Amin.  1995.  Etika  (Ilmu  Akhlak).  Terj.  oleh  Farid  Ma’ruf.  Jakarta:  Bulan Bintang. Cet. VIII. 
  2. Dit PSMP Kemdiknas. 2010. Pendidikan Karakter Terintegrasi dalam Pembelajarandi Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat PSMP Kemdiknas. 
  3. Doni  Koesoema  A.  2007.  Pendidikan  Karakter:  Strategi  Mendidik  Anak  di  Zaman Global. Jakarta: Grasindo. Cet. I. 
  4. Echols, M. John & Shadily, H. 1995. Kamus Inggris Indonesia: An English-Indonesian Dictionary. Jakarta: PT Gramedia. Cet. XXI. 
  5. Frye, Mike at all. (Ed.) 2002. Character Education: Informational Handbook and Guide for Support  and  Implementation  of  the  Student  Citizent  Act  of  2001.  North Carolina: Public Schools of North Carolina. 
  6. Kemdiknas. 2010. Desain Induk Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional. 
  7. Lickona, Thomas. 1991. Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility.  New  York,  Toronto,  London,  Sydney,  Aucland:  Bantam books. 
  8. Mulyasa, H.E. 2011. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara. 
  9. Pemerintah  Republik  Indonesia.  2010.  Kebijakan  Nasional  Pembangunan  Karakter Bangsa Tahun 2010-2025. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas. 
  10. Peraturan  Menteri  Pendidikan  Nasional  Republik  Indonesia  Nomor  23  Tahun  2006 tentang  Standar  Kompetensi  Lulusan  untuk  Satuan  Pendidikan  Dasar  dan Menengah. 
  11. Peraturan  Menteri  Pendidikan  Nasional  Republik  Indonesia  Nomor  20  Tahun  2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. 
  12. Peraturan  Menteri  Pendidikan  Nasional  Republik  Indonesia  Nomor  41  Tahun  2006 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 
  13. Pusat  Bahasa  Departemen  Pendidikan  Nasional.  2008.  Kamus  Bahasa  Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. Cet. I. 
  14. Pusat Kurikulum Kemdiknas. 2009. Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas. 
  15. Ryan, Kevin & Bohlin, K. E. 1999. Building Character in Schools: Practical Ways to Bring Moral Instruction to Life. San Francisco: Jossey Bass. 
  16. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 
  17. Zainuddin.  2008.  Reformasi  Pendidikan:  Kritik  Kurikulum  dan  Manajemen  Berbasis Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Monday, August 19, 2013

Sekolah yang Merakyat, Mengajarkan Pengetahuan dan Ketrampilan serta Menanamkan Nilai-Nilai Moral


Oleh: Asep Sapa'at 
(Praktisi Pendidikan, Direktur Sekolah Guru Indonesia)

Dari dulu sampai sekarang, sekolah masih tetap ada di muka bumi ini. Sekolah, selain mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, juga punya peran untuk menanamkan nilai-nilai moral kehidupan. Sejatinya, itulah fungsi dan peran idealisme suatu sekolah. 
   
Sayang seribu sayang, idealisme sekolah kian luntur tak mampu imbangi realitas zaman yang serbarumit. Hari ini, peran sekolah tak cukup sekadar mampu memenuhi hak-hak belajar murid. Tapi, sekolah mesti mampu lakoni peran sebagai agen perubahan sosial kehidupan masyarakat.
Budaya hedonis- kapitalis, lahirkan lulusan yang tak sadar diri, untuk apa dan untuk siapa bersekolah. Sekolah hanya jadi institusi yang berguna bagi dirinya sendiri dan melanggengkan kepentingan kelompoknya, tapi tak mampu mengubah potret hidup masyarakat. 

Teringat pernyataan Prof Jimly Asshiddiqie tempo hari, "Sekolah itu sama saja. Mau bersekolah di negeri atau swasta, di kota atau di desa, di dalam negeri atau luar negeri, yang penting punya komitmen pribadi untuk sungguh-sungguh mencari ilmu. Sekolah itu faktor pendukung keberhasilan hidup seseorang. Jika dapat sekolah bagus, anggap saja itu bonus". 

Saya cukup penasaran, mengapa Prof. Jimly punya cara berpikir seperti itu soal sekolah? Saya amat bersyukur, tak perlu waktu lama untuk temukan jawaban dari beliau. "Dulu saya sekolah di Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah --selevel SD dan SMP-- di pelosok desa. Yang menarik, saya baru tahu sekarang, sekolah saya itu ternyata tak punya status. Sekolah saya tak berstatus 'diakui', 'disamakan', 'terakreditasi', tapi hanya berstatus 'diridhai Allah SWT", urai Prof. Jimly sambil terkekeh. 

"Masa depan tergantung KOMITMEN. Lingkungan, itu bonus. Mending jadi orang susah, tapi pikiran terbuka", itulah prinsip hidup Prof. Jimly. Terlahir dari keluarga miskin tak membuatnya risau menatap masa depan. Nah, kira-kira adakah sekolah yang bisa didik anak-anak orang susah agar punya pikiran terbuka? Oh ya, saya ingat satu nama, 'Sekolah Dowa Islami' di kota Serang (Banten).  

Entahlah, pertama kali melihat bangunan sekolah yang didominasi bahan dari kayu dan bilik, pikiran saya terbang menerawang. "Lulusan seperti apa yang bisa dihasilkan dari sekolah ini?" Ruangan kelas beralaskan ubin kayu, berdinding bilik, dan beratap seng menjadi saksi bisu perjuangan jatuh bangunnya sekolah Dowa Islami. Tak ada yang istimewa jika menilik infrastruktur bangunan sekolahnya. Tapi, ketangguhan dan kemuliaan hati para pendidiknya yang justru memesona diri saya.

Sekolah ini menerima anak-anak terbuang, yang sulit masuk sekolah elit dan favorit. Tak ada kebanggaan bagi orangtua yang kirimkan anaknya sekolah di Dowa Islami. Wajar memang karena sekolah ini dianggap tak punya prestise. Apalagi soal prestasi. Justru karena tak punya prestise dan prestasi, sekolah ini memulai dengan keberanian tuk bermimpi. Cita-citanya tak muluk, anak-anak dari rakyat jelata dan tak berpunya tetap bisa berilmu agar hidupnya mulia dan bermanfaat bagi sesama. 

Lupakan soal gaji. Kepala sekolah dan guru sadar untuk apa mereka berkarya di sekolah Dowa Islami. No money, they're no cry. Biarlah hidup mereka serba terbatas. Tapi, harapan untuk melahirkan generasi yang lebih baik tak pernah redup di telan sang waktu. Mereka berikan karya terbaik untuk sekolah. Suasana hidup di lingkungan sekolah serba prihatin. Kondisi yang jelas bukan karena pilihan mereka sendiri. 

Tantangan terberat datang dari orangtua murid. Mereka tak yakin anaknya bisa berhasil sekolah di Dowa Islami. Titik persoalan, lebih banyak orangtua yang rajin mengkritik saja ketimbang turut berkontribusi memajukan sekolah. Barisan kepala sekolah dan guru tetap solid hadapi situasi tersebut. Proses pendidikan terus berlangsung, anak didik tetap dirawat agar tak jadi 'sampah masyarakat'. Ajaran soal moralitas jadi menu utama. Soal kepintaran, itu nomor dua. Semua murid dibekali keterampilan hidup agar tak jadi beban buat masyarakat, syukur-syukur jika ada yang berhasil lanjutkan ke bangku sekolah yang lebih tinggi lewat beasiswa. 

Suasana kebersamaan begitu kental terasa di sekolah Dowa Islami. Jika ada tamu datang ke sekolah, semua guru dan murid bahu-membahu memberi pelayanan terbaik. Meski kondisi keuangan sekolah morat-marit, pantang untuk berikan jamuan alakadarnya pada tamu. "Tamu itu mesti dimuliakan. Kami kumpulkan dana dari semua guru dan murid. Kami masak bersama untuk memberikan hidangan istimewa. Itulah cara kami mensyukuri nikmat. Semoga keberkahan menyertai perjuangan kami", ungkap kepala sekolah di sela-sela bincang santai. Saya merasa begitu sangat terhormat bisa hadir dan bercengkrama bersama guru-guru Dowa Islami tahun 2009 silam.

Atas dasar sikap sabar, syukur, ikhlas, sungguh-sungguh dalam melewati hari-hari penuh perjuangan, sekolah mulai tunjukkan prestasi sedikit demi sedikit. Dulu banyak yang mencibir, kini tak sedikit yang mulai menaruh respek. "Bersyukur saya jadi orang susah. Karena hidup susah, pikiran saya jadi lebih terbuka karena ilmu yang diberikan guru-guru Dowa Islami". Cara berpikir murid Dowa Islami yang telah mengalami perubahan.
       
Inkeles dan Dreeben (1968) menyatakan, sekolah dapat memberikan efek terhadap sikap hidup para pelakunya hanya melalui proses interaksi sosial yang berlangsung di sekolah, bukan karena faktor pemberian materi pengajaran. Sikap teladan yang ditunjukkan guru-guru Dowa Islami paling memengaruhi cara berpikir dan bersikap murid-muridnya karena adanya interaksi sosial intens antara guru-murid di sekolah tersebut. 

Inilah potret sekolah yang merakyat, sekolahnya punya rakyat. Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Mereka pegang teguh konsep 'berkah'. Apa itu konsep 'berkah'? Jika hidup serba kurang tetap bisa dicukupkan, berlebih tak ada yang sia-sia. Hulu dan hilirnya, semua penuh kebaikan. Kelak, sekolah model inilah yang punya masa depan cerah.

Mengapa? Karena para lulusannya tetap bersahaja, berhati rakyat, dan gunakan segenap kemampuannya ketika mereka jadi orang berhasil untuk selamatkan sekolah agar tetap eksis. Jika pun hanya jadi orang biasa, mereka tetap bersikap tanggung jawab untuk berperilaku baik agar tak cemarkan nama baik sekolah di mata masyarakat. Karena sejatinya, sekolah telah mewariskan jati diri dan kebanggaan sebagai rakyat yang meskipun hidup susah tetap bisa jaga kehormatan diri. [ROL]

Friday, August 2, 2013

Problem Anak Disaat Liburan: PR Menumpuk yang Tidak Dinilai Guru

Magister-pendidikan. Liburan panjang menjelang hari Lebaran yang dinanti telah tiba. Sebagian anak-anak sekolah di Indonesia sudah mulai libur sejak Sabtu kemarin, sementara sebagian lagi akan memasuki liburan sekolahnya pekan ini.

Jangankan anak-anak, kita saja para orang tua terutama para ibu, girangnya bukan main jika masa liburan telah tiba. Seolah terlepas sejenak dari "beban" kewajiban mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan sekolah anak-anak. 

Bebas dari kewajiban membuatkan bekal untuk makan siang di sekolah, bebas dari kewajiban mendampingi anak mengerjakan PR, bebas dari kewajiban mengantar dan menjemput anak ke sekolah dan tempat les, dan lain-lain aktifitas sehari-hari yang cukup menguras pikiran dan tenaga. Lega rasanya saat anak-anak mendapatkan libur barang dua pekan. Cukuplah bagi kita untuk sejenak beristirahat, dan beralih pada kesibukan yang berbeda, seperti mengerjakan hobi atau mengunjungi keluarga dan teman.

Tapi tunggu dulu, benarkah di musim liburan ini, anak-anak kita benar-benar libur ? tidak bersentuhan dengan buku tulis dan pensil sama sekali? ataukah justru sebaliknya, mereka terpaksa mengisi liburan dengan kening berkerut dan keluh kesah berkepanjangan karena para guru di sekolah membekali murid-muridnya dengan tugas yang luar biasa banyaknya ?. Kalau sudah begini, apa boleh buat, kita para orang tuapun harus merelakan waktu untuk selalu mendampingi anak-anak belajar, yang itu artinya, membuat kita seolah kembali bersekolah.

Mengapa PR tetap diberikan di saat liburan ?

Ada satu masalah yang sering dihadapi para guru saat anak-anak kembali masuk sekolah setelah liburan usai, yakni sulitnya anak-anak memasuki materi pelajaran tertentu yang terputus karena libur. Kebanyakan anak-anak terlupa dengan materi yang sudah dibahas, karena jeda libur yang terlampau lama. Akibatnya guru harus mengulang menjelaskan dari awal lagi, dan ini berarti guru dan murid merugi waktu, karena seharusnya yang dibahas adalah materi berikutnya. Fenomena ini sangat kerap ditemukan, yang oleh sebab itu harus dicarikan solusinya.

Kemudian para gurupun memberikan Pekerjaan Rumah kepada murid-muridnya, dengan tujuan agar para murid tetap belajar di sela-sela waktu liburnya yang panjang, juga agar anak-anak tidak terlupa pada materi pelajaran yang sudah dibahas.

Selain itu, pemberian PR diharapkan dapat menjadi semacam "jembatan" yang menghubungkan antara proses belajar di sekolah dengan proses belajar di rumah. Kerjasama yang sinergis antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah (keluarga) memang sangat dibutuhkan. Hal ini menuntut pihak keluarga khususnya orang tua untuk terlibat secara aktif dalam proses pendidikan anak. Asumsinya, orang tua harus membantu anak memahami materi pelajaran yang sulit, mengingat faktor keterbatasan waktu di sekolah, dan keterbatasan perhatian guru yang harus memecah konsentrasinya pada semua muridnya dalam satu kelas dengan kemampuan setiap murid yang beragam pula.

PR itu sudah biasa. Tapi kalau terlalu banyak, ya bete juga !

Sampai disini sebetulnya tidak ada masalah karena alasan pemberian PR tersebut sangat masuk akal dan bermanfaat bagi anak. Namun akan berbeda permasalahannya jika PR yang diberikan oleh guru sangat banyak, dan setiap guru seolah berlomba memberikan seabrek PR kepada anak-anak kita. Walhasil, alih-alih liburan menyenangkan yang didapat oleh anak dan orang tua, anak-anak justru menjadi anti pati terhadap suatu pelajaran tertentu atau bahkan marah kepada gurunya. Secara psikologis hal ini tentu sangat merugikan anak-anak, karena bagaimanapun, anak-anak tidak boleh memiliki pandangan yang keliru terhadap proses belajar termasuk memendam perasaan yang negatif kepada para gurunya.

Dalam psikologi pendidikan disebutkan bahwa waktu efektif bagi seorang anak untuk berkonsentrasi belajar dengan duduk diam, mendengarkan penjelasan dan mengerjakan latihan soal , tak lebih dari 20 menit saja. Selebihnya anak akan merasa gelisah, teralihkan perhatiannya, dan ingin melakukan kegiatan yang lain. Oleh karena itu tak usah heran jika saat kita mendampingi anak mengerjakan PR nya, baru 20 menit, dia sudah tak sabar, inginnya mondar-mandir dengan banyak alasan. Yang ingin minumlah, ingin sambil makan permen, ingin ke toilet dulu, mengusik adik bayinya, dll. Sebetulnya bukan semua itu yang mereka butuhkan. Mereka hanya merasa bosan saja. Nah, itu jugalah yang terjadi di sekolah. Terbayang bukan, bagaimana seorang guru harus menghadapi ulah anak sekelas yang semuanya merasa bosan ? kalau guru tidak kreatif mensiasati keadaan ini, bisa cepat kena penyakit darting dia !

Apakah semua PR Itu diperiksa dan diberi nilai oleh guru ?

Kalau memang pada umumnya seorang anak hanya punya waktu konsentrasi belajar secara efektif hanya 20 menit, lalu mengapa guru harus memberikan PR yang harus dikerjakan anak dalam waktu 2 jam sehari selama seminggu ? sudah begitu semua guru memberikan PR yang sama banyaknya ? tak ada manfaatnya bukan ? karena percayalah, boleh jadi semua PR nya selesai, namun mereka mengerjakannya dengan gerutuan panjang pendek, yang membuat orang tua hanya bisa mengelus dada ( karena jujur, orang tuapun merasakan hal yang sama. Kesal karena terbawa sibuk membantu mengerjakan PR ! ).

Masih mending kalau saat masuk sekolah nanti semua PR yang segunung itu diperiksa dan diberi nilai. Masih agak terhiburlah hati anak-anak, apalagi kalau guru memberikan nilai bagus. Namun pada kenyataannya, banyak sekali guru yang sama sekali mengabaikan PR yang diberikan kepada murid-muridnya tanpa dinilai sama sekali, padahal PR itu jelas-jelas telah menyita sebagian waktu liburan anak- anak !

Sama sekali tidak diperiksa  nggak usah heran kalau guru semacam ini jadi sasaran kebencian dan kemarahan para murid di belakang punggungnya.

Jadi apa yang harus dilakukan ?

1. Saran Bagi Orang Tua

Bagaimanapun, PR memiliki manfaat yang besar bagi anak-anak kita. Libur yang terlampau panjang tanpa diisi sama sekali dengan kegiatan belajar (mengulang dan berlatih pelajaran di sekolah ) akan membuat anak terlena, hilang motivasi, atau terlupa pada materi pelajaran yang mungkin saja sesungguhnya sudah dia kuasai. Oleh karena itu orang tua harus mensupport anak-anak dalam mengerjakan tugas-tugasnya, yakni dengan mendampingi, kalau perlu membantu mereka menyelesaikan pekerjaannya.

Membantu mengerjakan PR ? ya, mengapa tidak ? boleh kok kita membantu anak mengerjakan PR, sebatas bukan kita yang mengerjakan semua PR itu, namun memberitahu cara termudah mengerjakannya. Termasuk seumpama membantu mencarikan sumber belajar di internet, membelikan alat- alat yang dibutuhkan untuk PR tertentu seperti membuat peta bumi, melakukan tanya jawab, atau bahkan sesederhana sekedar duduk disampingnya sambil membaca buku, sementara anak asyik mengerjakan PR nya. Percayalah, hanya sekedar melihat Ayah-Bundanya ada di sampingnya saja, terkadang sudah lebih dari cukup bagi seorang anak untuk bersemangat mengerjakan PR-PR nya sampai selesai.

Bagaimana jika PR yang diberikan guru sangat banyak dan menyita waktu liburan anak-anak ? tugas kitalah sebagai orang tua, untuk membantu mengatur jadwal mereka. Berilah pengertian, dan doronglah anak-anak untuk mencicil PR nya sedikit demi sedikit setiap hari, yang penting selesai. Jangan sampai karena kelalaian orang tua dan keasyikan liburan , anak- anak terpaksa merapel pekerjaannya yang segunung dalam waktu yang sangat sempit. Anak akan kelelahan, atau bahkan jatuh sakit, dan kita bisa jadi uring-uringan nanti.

Dan ini yang tak kalah penting : jangan lupa untuk selalu memeriksa dan memastikan anak-anak sudah benar mengerjakan PR nya. Wah, kok jadi terlihat seperti guru ya ? ya begitulah faktanya. Orang tua adalah guru yang utama bagi anak- anak. Itulah gunanya dahulu kita bersekolah. Ilmu yang kita miliki akan sangat bermanfaat bagi putra-putri kita, tak peduli apa profesi kita. Bersyukurlah bagi teman-teman yang berprofesi sebagai Ibu rumah tangga full timer. Itu artinya anda memiliki cukup banyak waktu untuk berkonsentrasi menjadi guru di rumah bagi anak-anak tercinta. Lalu bagaimana dengan Ayah-Ibu yang keduanya berkarir di luar rumah ? jawabannya sama saja : anda harus tetap meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak berlajar di rumah, jika anda ingin anak -anak sukses dalam pendidikannya. Atau anda ingin menyerahkan soal pendidikan anak-anak pada babysitter atau asisten rumah tangga barangkali ? pikirkanlah dampaknya baik-baik.

2. Saran Bagi Guru

Untuk bagian ini, saya serasa berkontemplasi, mengingatkan diri sendiri agar menjadi pendidik yang baik dan bertanggung jawab, yang kehadirannya di kelas selalu ditunggu anak-anak dengan penuh semangat.
Teman-teman Pendidik yang budiman, Ingatlah selalu bahwa mata pelajaran di sekolah itu bukan hanya mata pelajaran yang kita ajarkan saja. Masih banyak mata pelajaran lainnya . Ketika kita harus memberikan PR yang harus dikerjakan pada saat liburan, jangan pernah lupa bahwa guru lainpun ada kemungkinan melakukan hal yang serupa. Jika satu guru memberikan PR masing-masing 2 bab, maka berapa bab PR yang harus dikerjakan seorang anak untuk sedikitnya 10 mata pelajaran ? 20 bab bukan ? nah, apakah itu wajar bagi seorang anak ? apakah saat kita seusia mereka kita akan sanggup mengerjakannya ?

Berilah PR kepada murid-murid kita semata-mata karena motif manfaat, bukan motif yang lainnya, apalagi motif kewibawaan. Tak pernah ada ceritanya, guru berwibawa di mata para murid karena banyak memberikan PR, memberikan soal ulangan yang musykil, pelit nilai, atau bersikap galak. Anak-anak hanya akan takut pada kita, bukan merasa segan. Dan kita tahu, alangkah besarnya perbedaan antara makna takut dengan segan !

Selalulah menjalin komunikasi dengan rekan sejawat. Cari tahu sebanyak apa PR yang mereka berikan, agar anak-anak tidak terlalu terbebani dengan banyaknya PR yang kita berikan. Di saat liburan, anak-anak berhak libur, berhak istirahat. Mana mungkin mereka dapat beristirahat dan bersenang-senang, dapat bertumbuh kembang fisik dan mentalnya dengan baik, jika di saat liburanpun, mereka harus tetap terlibat dalam situasi yang serius, yang membuat mereka penat ?. Jika memang harus memberikan PR, upayakan agar waktu mereka tidak banyak tersita. Buatlah sedemikian rupa agar PR kita dapat diselesaikan anak-anak maksimal dalam waktu 30 menit saja. Yang penting anak-anak tidak melupakan pelajarannya.

Bersikaplah kreatif dalam memberikan PR. Jangan hanya menekankan segi kognitif saja. Anak-anakpun harus berkembang dalam sisi afektif dan psikomotoriknya. Sesungguhnya PR dapat dibuat sedemikian rupa agar anak-anak lebih merasa bermain ketimbang mengerjakan PR. Semisal tugas mengunjungi dan bersilaturahmi kepada guru TK, SD, atau SMP nya, tugas membuka dan membaca website yang kita tentukan, tugas membaca satu buku cerita/ novel, tugas mengunjungi taman kota, melihat-lihat kampus perguruan tinggi, tugas memotret pemandangan yang paling unik dan menarik di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka, tugas menonton pertunjukkan seni, tugas mengunjungi museum, tugas wisata kuliner, dll, yang kesemuanya itu akan dipresentaskan di kelas di hadapan teman-temannya . Dan masih banyak lagi kreatifitas yang dapat dilakukan dalam memberikan PR kepada para siswa. Semua tugas itu sangat mungkin diintegrasikan dalam mata pelajaran apapun. Anak akan merasa senang, karena mereka dapat melakukannya sambil bermain.

Satu hal yang paling penting : jangan pernah membiarkan PR anak-anak terkumpul di meja kita atau di inbox email kita tanpa diperiksa dan dinilai. Kasihan mereka yang sudah bersusah payah mengerjakannya. Berilah penghargaan pada anak-anak yang rajin, jangan hanya pandai menghukum mereka yang tidak mengerjakan PR. Memeriksa dan menilai setiap pekerjaan murid, adalah tugas kita yang utama. Bagaimana kita bisa tahu tingkat pemahaman anak-anak, jika melihat PR mereka saja kita tak sudi ?. Atau, tak perlulah kita memberi PR jika kita tak sanggup memeriksa dan menilainya. Janganlah berbuat curang pada anak-anak, sekecil apapun. Tak ada yang lebih buruk daripada menjadi guru yang dibenci oleh muridnya sendiri.

Akhir kata, biarkanlah anak-anak bergembira ria di saat liburan. Mereka berhak mendapatkannya setelah sepanjang semester mereka belajar dengan keras dan rajin. Biarkanlah anak-anak mengisi liburannya dengan kegiatan yang bermanfaat dan menyehatkan. Menyehatkan fisik dan mentalnya. Jadilah guru dan orang tua yang bijak dalam menyikapi fenomena PR di saat liburan, demi keberhasilan pendidikan anak-anak kita tercinta. Nah, semoga bermanfaat, selamat mendidik ya teman-teman :)

___________________
Sumber : Harian Kompas Senin, 29 Juli 2013

Monday, July 29, 2013

Manejemen Pembelajaran Berbasis Perilaku Siswa

Wah, kelas ini luar biasa ribut, banyak yang tidak membuat PR, kurang berminat dalam belajar, si anu suka permisi, sianu suka mengeluarkan bunyi bunyi tertentu, suka cabut dan masih banyak lagi keluhan sejenisnya, keluhan serupa sering kita dengar dari guru bidang studi selesai mengajar dari kelas tertentu. Apakah penyebab semua itu? Dan apakah pengaruhnya terhadap out pendidikan yang kita telorkan ?

Hal ini membuat penulis tergelitik untuk mempelajari secara diam diam. Mulai dari tahun 1996 sampai 1998, saya mulai mengkaji perilaku siswa dan yang melatar belakangi munculnya perilaku tertentu pada masing masing siswa yang saya ajar. Saya mengamati perilaku siswa pada dua jenjang pendidikan yakni:tingkat sekolah dasar tepatnya kelas 4 SD negeri 010 Batam. Di SD saya bertindak selaku wali kelas , dimana kelas ini belajar pada sip siang yakni pukul 13.30 siang.

Dalam pengamatan yang dilakukan secara diam diam ternyata terdapat beberapa masalah yang menjadi penyebab munculnya keluhan keluhan di atas. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kurangnya manejemen perilaku siswa atau peserta didik

2. Lemahnya manejemen pembelajaran yang berbasis perilaku siswa

Kedua masalah tersebut merupakan biang kerok munculnya perilaku tertentu pada siswa, sehingga disiplin dan prestasi siswa menjadi menurun. Dapat kita bayangkan jika disiplin dan prestasi output yang kita telorkan menurun, mau dibawa kemana generasi kita kedepan?. Peran dunia pendidikan untuk melahirkan generasi unggul semakin jauh dari impian, jika masalah ini tidak segera kita carikan jalan keluarnya.

Disini dituntut perlunya kreatifitas kita untuk melakukan terobosan terobosan yang kira kira dapat menciptakan peserta didik mengikuti pelajaran dengan menyenangkan dan meminimalisir munculnya perilaku tertentu yang kurang menyenangkan dalam belajar. sehingga kita harapkan keluhan keluhan yang biasa kita dengar selama tidak lagi kita temukan.

Disini penulis ingin berbagi tentang langkah langkah manejemen perilaku siswa dan penanganan masalah yang penulis lakukan selama ini, baik ditingkat SD.

Pada tingkat sekolah dasar, penulis mengamati perilaku siswa pada kelas 4 SD N 010 Batam sebagai walikelas . Bermula dari teguran lisan yang cukup menggelitik dari seorang guru olah raga senior kepada saya sebagai guru honorer disekolah ini. Bu, jadi wali kelas itu harus bisa mengamankan anaknya sebelum guru bidang studi mengajar, bariskan dulu anaknya kelapangan, kalau sudah dibariskan baru panggil saya kelapangan! Jangan hanya diam saja dikantor, kalau masih mau honor di sekolah ini. Lihat tuh anak anaknya berkeliaran , ribut, dan bandel bandel lagi !.

Teguran ini saya jadikan sebagai cemeti untuk dapat mengubah perilaku siswa yang katanya susah diatur menjadi siswa yang mudah diatur. Saya menginginkan siswa itu belajar tanpa harus diomeli seperti itu. Apakah yang menyebabkan mereka ribut, main main dan sebagainya itu? apakah pelajarannya yang kurang menarik, cara penyajiannnyakah yang kurang tepat, atau memang karakter siswanya kah yang kurang bagus seperti yang mereka keluhkan? Dan terkadang juga saya keluhkan.

Maka penulis mulai dengan melakukan langkah kecil yang mungkin kelihatannya tidak berguna, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Mendata kecendrungan perilaku siswa sehari hari di kelas dan melakukan konseling terhadap siswa yang menunjukkkan perilaku negatif. Serta mendata siswa yang berkebutuhan khusus yang terdapat di dalam kelas yang diamati.

2. Mencari tahu latar belakang siswa , meliputi latar belakang sosial yang multikulturalisme dan latar belakang rumah tangga serta orang tua siswa.

3. Mendata gaya belajar siswa apakah cendrung pada gaya belajar visual, audio, audio visual maupun kinestetik melalui pengamatan sehari hari.

4. Merancang alternatif model , teknik dan pendekatan pembelajaran yang ideal bagi siswa yang berfariatif sesuai dengan latar belakang peserta didik yang multikulturalisme, berdasarkan manejemen perilaku siswa yang sudah dilakukan pada langkah satu sampai tiga.

5. Malaksanakan model, teknik dan pendekatan pembelajaran yang ideal sesuai dengan manejemen perilaku siswa. Sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan.

6. Memandang siswa sebagai pribadi yang berharga dan memperlakukan mereka sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Karena kita tahu apa yang mereka mau dan mereka butuhkan . sehingga terbentuk pembelajaran yang menyenagkan dan pembelajaran yang bermakna, yang menyentuh ketiga ranah teori belajar yakni saya tahu (behaviorisme) saya bisa berbuat dan merancang pengetahuan (konstruktifisme) dan saya bisa menerapkannya dalam kehidupan dan bermasyarakat secara sehat dan penuh kearifan ( Humanisme).

Berdasarkan hasil manejemen perilaku siswa di sekolah dasar tersebut ternyata penyebab siswa yang ribut dan kurang perhatian bahkan susah diatur dalam belajar itu adalah :

1. Siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik dan visual merasa kurang nyaman dan kurang diperhatikan, bahkan sering dimarahi karena dianggap sumber keributan yang mengganggu PBM. Sementara praktek pembelajaran yang diberikan selama ini yang cendrung secara linear terasa menjemukan bagi mereka. Tidak dapat menyentuh kebutuhan belajar masing masing siswa dengan gaya dan karak teristik belajar yang mereka miliki.

2. Siswa SD khususnya kelas 4 pada umumnya belum bisa terlepas dari dunia bermain. Maka pembelajaran linear bagi mereka terasa menjemukan.

Oleh sebab itu penulis berusaha mencari penyegaran dengan melalukan pembelajaran yang menyenangkan dengan memperhatikan semua kebuhtuhan belajar mereka. dengan menggunakan teknik dan metode pembelajaran yang bervariatif, seperti belajar sambil bermain, sambil bernyanyi dan sesekali wisata lingkungan sekitar untuk memupuk timbulnya jiwa kreatif dan kepekaan sosial merekan. Diantara model pembelajarn yang sering digunakan adala model Quantum learning dan Kontekstual Learnig. Sesekali untuk pelajaran diskusi menggunakan model Problem Based Learning dalam berdiskusi setelah melakukan wisata lingkungan sekolah.

Ternyata dengan melakukan manejemen prilaku dan manejemen pembelajaran pada murid kelas 4 SD dapat menekan keluhan perilaku siswa yang ribut, malas bahkan tidak berminat dalam belajar sama sekali. Melalui manejemen perilaku dan manejemen pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman siswa akan pentingnya belajar dan meningkatkan minat siswa dalam belajar. Sehingga angka keributan di kelas dapat diminimalisir. Selain itu kepekaan sosial anak jauh lebih bagus dari sebelumnya.

Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa manejemen perilaku siswa sangat penting dilakukan guna merancang model, teknik, metode yang relevan dengan kebutuhan siswa. Sehingga kita dapat mencipotakan manejemen pembelajaran dengan baik . Dan diharapkan dapat meningkatkan minat siswa dalam belajar.

Ditulis oleh Yusmarni, S.Pd

___________
Sumber: PaGi

Tuesday, December 18, 2012

Anies Baswedan: Guru Ujung Tombak Pendidikan

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan
Magister-pendidikan Online. Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan menilai guru merupakan ujung tombak masalah pendidikan di Indonesia, sebab edukasi merupakan proses interaksi antarmanusia.

"Jika kita memperhatikan kualitas, distribusi dan kesejahteraan guru, saya rasa kita bisa menyelesaikan sebagian masalah pendidikan di Indonesia," kata Anies dalam Diskusi Publik 'Nasionalisme dan Masa Depan Pendidikan Kita' yang diadakan MAARIF Institute, di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (23/10) malam.

Dia mengatakan sistem pendidikan Indonesia saat ini belum memberikan apresiasi khusus kepada guru, padahal apresiasi terhadap guru mencerminkan bagaimana seseorang mengapresiasi masa depan bangsa.

Apresiasi terhadap guru, menurut Anies, tidak selalu harus berbicara gaji, namun juga mengenai komponen pengembangan guru itu sendiri.

"Penanaman nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan yang sentralistik bisa terjadi apabila guru berkualitas," kata dia.

Selain itu, menurut dia, perlu juga dilihat pendidikan sisi nonformal, yakni melalui orang tua. Anies menilai seringkali pendidikan oleh orang tua dilupakan.

"Orang tua adalah pendidik yang penting, sehingga orang tua ini perlu dijangkau oleh sistem pendidikan kita. 

Sekarang orang tua diundang datang ke sekolah biasanya untuk sumbangan, padahal sudah waktunya diundang untuk bicara bersama-sama mengenai pendidikan," beber dia.

Dia mengatakan pembicaraan antara sekolah dengan orang tua perlu dilakukan sejak tahap sekolah dasar, sebab sekolah dasar memiliki sebaran yang sangat luas.

Sementara itu masalah-masalah lain yang tidak kalah penting, menurut dia, infrastruktur pendidikan yang saat ini masih belum mumpuni, serta materi pendidikan sekolah dasar yang dinilai bertujuan menjadikan masyarakat sebagai orang urban.

"Materi-materi di buku sekolah dasar selalu memakai contoh gedung-gedung yang tinggi, sehingga dampaknya materi dan cara mengajar berorientasi menjadikan anak didik sebagai masyarakat urban atau masyarakat perkotaan. Padahal Indonesia ini bukan hanya penduduk urban," kata dia.


Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/12/10/23/mccq9k-anies-baswedan-guru-ujung-tombak-pendidikan

Monday, December 17, 2012

Cara Jitu Menumbuhkan Semangat Belajar Pada Anak

Magister-pendidikan Online. Nah, ini adalah tema yang sering ditunggu-tunggu oleh orangtua dan juga sering banyak dikeluhkan orangtua. “Kenapa anak saya ngga senang belajar, maen aja seharian”, keluh seorang Ibu yang hadir diseminar saya. Para pembaca, percayakah Anda bahwa kehidupan sejati kita manusia adalah seorang pembelajar? Tapi kita sering memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan saat anak belajar (secara tidak sadar) bahkan dulu kita pun mungkin diberikan stimulasi yang salah sehingga belajar itu tidak menyenangkan.

Misalnya, saat anak kita bayi dan berumur 1 tahun. Dia ingin memasukan semua barang yang dapat ia pegang ke dalam mulutnya, benar? Nah yang kebanyakan orang lakukan saat itu adalah berkata “eh… itu kotor, ngga boleh” sambil menarik barang tersebut. Sebenarnya ini adalah perilaku dasar pada saat seorang anak belajar. Kemudian saat dia mulai bisa berjalan, mulai ingin tahu lebih banyak tentang lingkungan sekitar, semakin banyak larangan yang dikeluarkan oleh orangtua ataupun pengasuh. Mungkin karena lelah menjaga anak seharian, sehingga banyak larangan yang dikeluarkan. Padahal ini adalah keinginan mereka untuk tahu (belajar) lebih banyak, mengisi database di otaknya yang masih kosong dan perlu diisi.

Saat mulai bisa berbicara, bertanya ini dan itu. “Ini apa? Kenapa?” Jawaban yang diterima “lha tadi sudah tanya, tanya lagi dasar cerewet” mungkin saat itu pengasuh dan orangtua sedang lelah juga saat menjaganya sehingga malas dan capek untuk memberikan penjelasan dan ini adalah proses belajar seorang anak. Ada barang baru dirumah dan anak ingin memegangnya atau mengetahui lebih dekat, maka kita orangtua dan pengasuhnya menjauhkan barang tersebut darinya, dengan dalih nanti rusak karena barang mahal.

Dari sepenggal contoh diatas dimana ini adalah pengalaman nyata dari saya dan beberapa klien, siapakah yang membuat anak menjadi malas belajar?

Berikutnya ada seorang anak berusia 8 tahun, sebut saja Aji. Orangtuanya sangat mengeluhkan, bahwa anaknya tidak suka belajar dan sudah mendapat peringatan dari gurunya jika tidak ada perubahan sikap maka kemungkinan besar Aji tidak naik kelas. Saat bertemu, saya yakin Aji adalah anak yang luar biasa. Sesaat saya bertanya tentang hobi dan kesukaannya saat bermain, dengan cepat saya mengetahui anak ini luar biasa. Sebab setelah saya Tanya tentang hobinya ternyata sepak bola, dan tim kegemarannya adalah Arsenal (Liga Inggris). Dan Aji, hafal seluruh pemain inti dan cadangan Arsenal, berikut pelatih dan asistennya serta nomor punggung pemain, tanggal ulang tahun pemain serta daftar pencetak goal dan assist (pemberi umpan) dan point klasemen liga dan urutannya. Gila, luar biasa! (dalam hati saya) Ngga ada yang salah sama hardware (otaknya), tapi masalahnya sama Software.

Satu orang anak yang sama, otaknya kalau dibuat belajar pelajaran disekolah tidak berfungsi (berhitung, menghafal) tetapi hafal seluruh pemain Arsenal. Apa anak ini bodoh? Tentunya Anda sepaham dengan saya, jawabanya adalah tidak. Anak ini pandai luar biasa. Hanya saja salah perlakuan sehingga ia malas dan tidak suka belajar.

Lalu apa yang saya lakukan untuk mengubah agar software menjadi baik dan membuat anak ini agar mudah belajar?  Yang saya perbaiki orangtuanya dahulu, sebab untuk anak seusia Aji, jika terdapat masalah dalam hidupnya berarti orangtua yang akan membantu untuk mengatasi masalah anak tersebut. Saya mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan anak dan sifat dari pikiran anak, serta pentingnya menomor satukan cinta dalam mendidik anak, yang semuanya akan sangat panjang jika saya jelaskan disini.

Berikutnya adalah tips bagaimana agar, anak kita menjadi rajin dan mudah sekali belajar dan sekolah.
  1. Saat pulang sekolah tanyakan “hai sayang, apa yang menyenangkan hari ini disekolah?” Otomatis otak anak akan mencari hal-hal yang menyenangkan disekolah dan ini secara tidak langsung akan memberitahu sang anak bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.
  2. Saat anak tidur (Hypnosleep), katakan “makin hari, belajar makin menyenangkan”, “sama halnya dengan bermain, belajar juga sangat menyenangkan”, “mudah sekali bagimu untuk belajar (berhitung, menghafal dll)”.
  3. Jelaskan manfaat dari pelajaran yang sedang dipelajari (sesuai dengan minat anak tersebut) misal: dengan mempelajari perkalian, maka saat liburan naik kelas nanti nanti kamu bisa menghitung berapa harga barang yang akan kamu beli di Singapore dan kamu bisa membandingkannya dengan harga di Indonesia. Jika kamu menguasai conversation dalam bahasa inggris maka kamu akan sangat mudah berkomunikasi dengan pelatih sepak bolamu yang dari Thailand.
  4. Mintalah guru les pelajarannya (jika ada), sering-sering mengatakan bahwa anak kita adalah anak yang hebat dan luar biasa. Pujian yang tulus dan memompa semangatnya jauh lebih penting dari pada mengajarkan tehnik-tehnik berhitung dan menghafal  yang cepat. Mintalah bantuan orang-orang sekitar termasuk guru untuk meningkatkan harga diri anak kita.
  5. Jika anak kita masih kecil dan masih suka dibacakan dongeng, bacakan dongeng dengan posisi memangku dia (dengan posisi yang nyaman, serta memudahkan kita orangtua untuk memberikan ciuman kasih sayang atau pelukan sayang) tujuannya agar anak mengkaitkan membaca buku dengan rasa cinta dari orangtua dan buku adalah hal yang sangat menyenangkan.
  6. Gunakan surat rahasia dari orangtua kepada anak, kita bisa berkata “nak, Ibu telah meletakan surat rahasia buat kamu. Cuma kamu dan ibu yang tahu isinya. Ibu letakan dibawah bantal tidurmu, bacalah setelah makan ya”. Isinya bisa berupa kata-kata yang menyemangati anak dalam kegiatan belajar dan sekolahnya.

Semoga....


---
Sumber:
http://www.pendidikankarakter.com/cara-jitu-menumbuhkan-semangat-belajar-pada-anak/

Kelas Maya, Interaksi Guru-Murid dari Seluruh Nusantara

Magister-pendidikan Online. Jika selama ini anak-anak hanya belajar di kelas dengan guru sekolah yang setiap hari bertemu, maka sekarang anak-anak baik dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat memperluas wawasan dengan mengikuti kelas dari guru yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia melalui program Kelas Maya.

Nah jika penasaran dengan Kelas Maya, silakan berkunjung ke belajar.kemdiknas.go.id. Melalui situs ini, anak-anak dapat memilih sendiri jenjang dan kelas sesuai dengan yang sedang dijalaninya. Selanjutnya, anak-anak akan diminta untuk melakukan login untuk identifikasi.

Setelah berhasil masuk, anak-anak tinggal memilih Kelas Maya berdasarkan mata pelajaran dan tingkatan semesternya. Nanti akan muncul bahan dan guru dari berbagai daerah yang dapat dipilih langsung oleh para siswa ini.

Namun satu guru biasanya dibatasi hanya dapat menampung tidak lebih dari 30 siswa agar pembelajarannya dapat dilakukan secara efektif. Untuk jadwal pengajarannya, anak-anak dapat melihat langsung dari status yang dituliskan oleh guru tersebut akan online jam berapa.

Anak-anak juga akan diminta untuk berdiskusi dengan teman-teman yang bergabung dalam Kelas Maya dari guru pilihannya. Tidak hanya itu, ada tugas semacam pekerjaan rumah yang juga harus dikerjakan nantinya untuk kemudian dibahas bersama.

Jika biasanya melalui portal Rumah Belajar anak-anak atau guru hanya mengunduh bahan ajar saja, maka di Kelas Maya ini anak-anak diminta untuk aktif dan menyelesaikan masing-masing bab dengan teratur. Dengan demikian, anak tersebut memiliki kewajiban untuk merampungkan bab tersebut baru bisa berpindah ke bab berikutnya.

"Nanti ada tugas di tiap bab. Itu harus dikerjakan dan nanti dilihat sudah bisa pindah bab atau belum. Jika belum maka anak tersebut tidak bisa mengakses bab berikutnya," jelas Kepala Pusat Teknologi dan Komunikasi Kemdikbud, Ari Santoso.

Format Kelas Maya sendiri dibuat dengan metode teleconference sehingga anak-anak dapat leluasa berinteraksi dengan guru sekaligus melakukan tanya jawab. Sementara antar sesama siswa, anak-anak ini difasilitasi dengan format chatting untuk berdiskusi.

Kelas Maya yang baru saja diluncurkan pada Jumat (9/11/2012) ini dilakukan sebagai langkah mengatasi kurangnya tenaga pendidik di daerah-daerah tertentu sekaligus membiasakan anak-anak dan guru dengan sarana Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam dunia pendidikan.


Sumber:
http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/10/13401075/Kelas.Maya.Interaksi.Guru-Murid.dari.Seluruh.Nusantara